Tampilkan postingan dengan label Belajar Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2012

Wanita Yang Memesan Tempat di Neraka

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari
Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut?

Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat­ Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.
“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerak­kan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.

Namun, astaghfirullah!­ Apakah yang terjadi?
Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!

Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan...
Mati dalam keadaan menantang Tuhan.

Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya...
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk....
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah....

Sungguh Allah masih menyayangi kita
Yang masih terus dibimbing-Nya
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA agar semakin dekat.
Dan bagi mereka yang terlena
Seharusnya segera sadar, mumpung kesempatan masih terbuka
Di sisa usia yang masih ada!
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana?

Wallahu a’lam

Semoga Jadi Renungan bagi kita semua...

TAUSIYAH:

Hukum Menutup Aurat

Alasan Perintah Menutup Aurat

Fitnah syahwat yang paling berat di alam ini adalah fitnah wanita, karena itu fitnah ini disebutkan pertama kali mengawali fitnah-fitnah syahwat lainnya sebagaimana firman Allah swt ;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ­ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binata­ng ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al imron : 14)

Untuk itu Allah swt memerintahkan para wanita menutupi seluruh tubuhnya yang merupakan perhiasannya kecuali yang biasa ditampakkan dengan mengenakan jilbab dan kerudung hingga ke dada, sebagaimana firman-Nya :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Artinya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.’ (QS. An Nuur : 31)

Dengan ditutupinya seluruh perhiasan seorang wanita maka akan mempersempit ruang bagi lawan jenisnya untuk mengarahkan pandangannya kepada perhiasannya atau bahkan menikmatinya dengan pandangan yang tidak wajar dan pandangan seperti ini adalah jalan menuju perzinahan bahkan ia sendiri sudah disebut dengan zina mata, sebagaimana hadits dari Abu Hurairoh ra dari Nabi saw bersabda,”Telah­ dituliskan terhadap anak Adam bagiannya dari zina dan bukan mustahil ia akan tertimpa olehnya. Zina mata adalah pandangan, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memegang, zina kaki adalah melangkah dan hati memiliki kecenderungan serta harapan yang kemudian dituruti atau diingkari oleh kemaluan.” (HR. Muslim)

Hikmah lain dari perintah menutup aurat ini adalah sebagai ciri khas dan identitas seorang wanita muslimah dibandingkan dengan wanita-wanita non muslim, sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ­ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya : “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu­, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Batasa Aurat Wanita
Tentang batasan aurat bagi seorang wanita ini, Sayyid Sabiq mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat yang wajib ditutup kecuali muka dan kedua telapak tangan, sebagaimana firman Allah swt :

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Artinya : “Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”(QS. An Nuur : 31)

maksudnya janganlah mereka memperlihatkan tempat-tempat perhiasan, melainkan kedua telapak tangan, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits dari ibnu Abbas, Ibnu umar dan Aisyah.

Dari Aisyah ra bahwasanya Nabi saw bersabda,”Allah­ tidak menerima sholat perempuan yang telah mencapai usia baligh, kecuali dengan memakai telekung.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah kecuali Nasai. Sementara Ibnu Khuzaimah dan Hakim menyatakan sebagai hadits shahih, sedangkan Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan)

Dari Ummu Salamah bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi saw,”Bolehkan wanita mengerjakan shalat dengan memakai baju kurung dan telekung, tanpa kain atau sarung? ‘ Beliau saw menjawab,’(Bole­h), apabila baju kurungnya lebar dan panjang menutup kedua tumitnya.” (HR. Abu Daud dan para imam menshahihkannya­ sebagai hadits mauquf)

Dari Aisyah ra bahwa ia pernah ditanya,”Berapa­ macamkah pakaian yang harus dipakai wanita yang hendak shalat?’ jawabnya,’Tanya­kanlah kepada Ali bin Abi Thalib, kemudian datanglah kepadaku dan beritahukan jawabannya kepadaku!’ Orang itu pun mendatangi Ali dan menanyakan hal itu kepadanya. Ali berkata,’Memaka­i telekung dan baju dalam,’ kemudian orang itu kembali menjumpai Aisyah dan menceritakan jawaban Ali kepadanya. Lantas Aisyah berkata,’Itulah­ jawaban yang benar.” (Fiqhus Sunnah edisi terjemah juz I hal 179 – 180)

Wallahu a'lam

" Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS Al-Ahzab:59)
READ MORE...

Rabu, 14 November 2012

Hikmah Sebagai Orang Sakit

Apabila seorang hamba Allah jatuh sakit, Allah akan mengutus 4 malaikat :
  1. Malaikat Pertama akan mengambil SELERA MAKANNYA. 
  2. Malaikat Kedua akan mengambil REZEKINYA. 
  3. Malaikat Ketiga akan mengambil KECANTIKAN/KETAMPANAN WAJAH (pucat). 
  4. Malaikat Keempat akan mengambil DOSANYA. 
Apabila telah sampai waktu yang telah Allah tetapkan untuk hambaNya kembali sehat, Allah akan menyuruh Malaikat Pertama, Malaikat Kedua dan Malaikat Ketiga agar mengembalikan apa yang telah diambil oleh mereka. Akan tetapi Allah tidak menyuruh Malaikat Keempat mengembalikan dosa hambaNya tersebut. SubhanAllah, betapa Mulia dan Baik Hati nya Allah terhadap kita. Janganlah bersangka buruk terhadap Allah ketika kita sakit, bersyukurlah dan ucaplah Alhamdulillah ke atasNya. Sesungguhnya setiap kesakitan itu adalah penghapus segala dosa. (sen) 


---------- 


Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik 'Link Posting Ini' dan undang teman-temanmu gabung dengan klik ‘http://interfacesyam.blogspot.com/’
READ MORE...

Selasa, 13 November 2012

TANDA - TANDA BESAR KIAMAT: DAJJAL MUNCUL DARI TIMUR

Ad Dajjal berarti pembohong yang luar biasa. Lafadz Dajjal sudah menjadi isim 'alam (kata nama) bagi AI-Masih sang pendusta dan buta sebelah matanya, sehingga, kalau disebutkan kata Dajjal, yang segera ditangkap pengertiannya ialah si pembohong tersebut.

Namun di akhir zaman ini sudah mulai bermunculan dajjal-dajjal kecil yaitu mereka ya

ng menutup kebenaran dengan kebathilan, dan menutup kekafirannya terhadap orang lain dengan kebohongan, kepalsuan, dan penipuan.

Memang tidak ada ayat Al-Quran yang menyebutkan ihwal Dajjal. Munculnya Dajjal menjelang Kiamat disebutkan dalam beberapa hadits shahih. Di antaranya hadits yang menyebutkan, "Tiga perkara yang apabila telah muncul tidaklah bermanfaat iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau ia belum mengusahakan kebaikan dalam imannya, yaitu terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang yang keluar dari perut bumi." (Shahih Muslim).

Hadits shahih lainnya, "Akan muncul Dajjal di tengah-tengah umatku.... Lalu Allah SWT mengutus Isa ibnu Maryam, seolah-olah dia itu Urwah bin Mas'ud, lalu mencari Dajjal, lantas membunuhnya." (Shahih Muslim).

Di sini Dajjal muncul di akhir zaman, sebab, diyakini umat Islam berdasarkan hadits-hadits shahih, Nabi Isa akan turun ke dunia untuk menyelamatkan umatnya supaya mengikuti agama nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ketika turun, Nabi Isa juga mendapatkan tugas untuk membunuh Dajjal.

Cerita Tamin Ad-Dari
Dalam hadits dari Shahih Muslim tentang Dajjal, sumbernya berasal dari Fathimah binti Qays, istri Usamah bin Zaid, disebutkan, ketika itu dia sedang mengikuti jama'ah shalat di masjid bersama Nabi SAW. "Nabi berkata, `Tahukah kalian mengapa aku kumpulkan kalian?'
Mereka menjawab, `Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.'

Beliau bersabda, `Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkari kalian karena senang atau benci. Aku kumpulkan kalian karena Tamin Ad-Dari, seorang pengikut Nasrani, telah berbai'at masuk Islam dan dia bercerita kepadaku tentang suatu masalah yang sesuai dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian mengenai AlMasih Ad-Dajjal.

Dia bercerita bahwa dia pernah naik perahu bersama tiga puluh orang yang terdiri dari orang-orang yang berpenyakit kulit dan lepra. Lalu mereka dihempas ombak selama sebulan di laut, kemudian mereka mencari perlindungan ke sebuah pulau di tengah lautan hingga sampai di daerah terbenamnya matahari. Lantas mereka menggunakan sampan kecil dan memasuki pulau tersebut. Di sana mereka berjumpa seekor binatang yang bulunya sangat lebat hingga tak kelihatan mana qubulnya dan mana duburnya (maksudnya mana muka dan belakangnya), karena lebatnya bulu.

Mereka berkata kepada binatang itu: Siapakah kamu?
Binatang itu menjawab: Aku adalah AI-Jassasah (orang yang selalu mencari berita).

Mereka bertanya: Apakah Al-Jassasah itu?
Dia menjawab: Wahai kaum, pergilah kepada orang yang berada di dalam biara ini, karena ia sangat merindukan berita kalian.

Kata Tamin: Ketika binatang itu menyebut seseorang, kami menjauhinya, karena kami takut binatang itu adalah setan. Lalu kami berangkat cepat-cepat hingga kami memasuki biara tersebut, tiba-tiba di sana ada seorang lelaki yang sangat besar tubuhnya dan tegap, kedua tangannya dibelenggu ke kuduknya, antara kedua lututnya dan mata kakinya dirantai dengan besi.

Kami bertanya: Siapakah engkau ini?

Dia menjawab: Kalian telah dapat menguak beritaku, karena itu beritahukanlah kepadaku siapakah sebenarnya kalian ini?
Mereka menjawab: Kami orang-orang dari Arab. Kami naik perahu dan terkatung-katung di laut dipermainkan ombak selama satu bulan, kemudian kami mencari tempat berlindung ke pulaumu ini dengan menaiki sampan kecil yang ada di sini lantas kami masuk pulau ini, dan kami bertemu seekor binatang yang bulunya sangat lebat sehingga tidak kelihatan mana depan dan belakangnya.
Lalu kami bertanya: Siapakah kamu?
Dia menjawab: Akulah Al-Jassasah.
Kami bertanya: Apakah AI-Jassasah itu?
Dia menjawab: Pergilah kepada lelaki ini di dalam biara, karena dia sangat merindukan berita kalian.
Lalu kami bergegas menemui dan meninggalkan dia. Dan kami merasa tidak aman, jangan-jangan dia setan.
Lelaki dalam biara itu bertanya: Tolong kabarkan kepada kami ihwal Desa Nakhl Baisan.
Kami bertanya: Tentang apanya?
Dia berkata: Tentang kurmanya, apakah berbuah.
Kami menjawab: Ya.
Dia berkata: Ketahuilah, sesungguhnya pohon-pohon kurmanya itu tidak akan berbuah lagi.
Dia bertanya lagi: Tolong beri tahukan
kepadaku perihal Danau Ath-Thabariyah. Kami bertanya: Tentang apanya? Dia bertanya: Apakah ada airnya? Kami menjawab: Airnya banyak
sekali.

Dia berkata: Ketahuilah, sesungguhnya airnya akan habis.
Selanjutnya dia berkata lagi: Kabarkan kepadaku tentang negeri `Ain Zughor?
Kami bertanya: Tentang apanya?
Dia bertanya: Apakah sumbernya masih mengeluarkan air yang dapat digunakan penduduknya untuk menyiram tanamannya?

Kami menjawab: Airnya banyak sekali, dan penduduknya menggunakannya untuk menyiram tanaman mereka.
Dia berkata lagi: Tolong beri tahukan kepadaku tentang nabi yang ummi. Apakah yang dilakukannya?
Kami menjawab: Beliau telah berhijrah meninggalkan Makkah ke Yatsrib.
Dia bertanya: Apakah orang-orang Arab memeranginya?
Kami menjawab: Ya.
Dia bertanya lagi: Apakah yang dilakukannya terhadap mereka?

Lalu kami beri tahukan bahwa beliau menolong orang-orang Arab yang mengikuti beliau dan mereka mematuhi beliau.
Dia berkata: Ketahuilah bahwasanya lebih baik bagi mereka untuk mematuhinya. Dan perlu saya beritahukan kepada kalian bahwa saya adalah AI-Masih (AdDajjal), dan saya akan diizinkan keluar, yang nantinya saya akan berkelana ke muka bumi. Maka tidak ada satu pun desa melainkan saya singgahi selama empat puluh malam kecuali Makkah dan Thaibah (Madinah), karena kedua kota ini diharamkan atas saya. Setiap saya hendak masuk salah satunya, saya dihadang oleh seorang malaikat yang menghunus pedang, dan pada tiap-tiap lorongnya ada malaikat menjaganya."

Fathimah binti Qays berkata, "Rasulullah SAW bersabda sembari mencocok-cocokkan (menusukkan) tongkat kecilnya di mimbar, `Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah.' Yakni Madinah. `Ingatlah, bukankah aku telah memberitahukan kepadamu mengenai hal itu?'
Orang-orang menjawab, 'Ya.'

Selanjutnya beliau bersabda, 'Saya heran terhadap cerita Tamin yang sesuai dengan apa yang telah saya ceritakan kepada kalian, juga tentang kota Madinah dan Makkah. Ketahuilah bahwa dia berada di luar Syam atau laut Yaman. Oh tidak, tetapi dia akan datang dari arah timur.... dari arah timur.' Dan beliau berisyarat dengan tangan beliau menunjuk ke arah timur."
Fathimah berkata, "Maka saya hafal (hadits) ini dari Rasulullah SAW." (Shahih Muslim 18: 78-83).

Tulisan Kaf-Fa'-Ra'

Menurut beberapa hadits, disebutkan bahwa Dajjal masih muda, berkulit merah, pendek, berambut keriting, dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, dan matanya ini tidak menonjol keluar, juga tidak tenggelam, seolah-olah buah anggur yang masak (tak bercahaya), dan matanya sebelah kiri ditumbuhi daging yang tebal pada sudutnya. Di antara tandanya lagi, ia mandul, tidak punya anak.

Diantara kedua matanya terdapat tulisan kaf-fa'-ra' secara terpisah, atau tulisan kafir secara bersambung atau berangkai,".

Dalam Shahih Muslim disebutkan, "Semenjak diciptakannya Adam hingga datangnya hari Kiamat, tidak ada makhluk yang lebih besar daripada Dajjal." Maksud "makhluk yang lebih besar" di sini bukan fisiknya, melainkan fitnahnya, sebab dalam hadits sebelumnya disebutkan bahwa Dajjal berbadan pendek.

Dajjal akan keluar dari arah timur. Nabi tidak memastikan dari kota mana. Hanya disebutkan dari laut Syam atau laut Yaman. Ada pula hadits yang mengatakan dari Khurasan, dari Kampung Yahudiyah, kota Ashbahan. Wallahu a'lam.
Kemudian Dajjal mengembara ke seluruh dunia. Maka tidak ada satu pun negeri yang tidak dimasukinya, kecuali Makkah dan Madinah, karena kedua kota tersebut dijaga para malaikat.

Fitnah Dajjal merupakan fitnah paling besar di antara fitnah-fitnah yang ada semenjak Allah menciptakan Adam hingga datangnya hari Kiamat.

Disebutkan dalam hadits

وَإِنَّ قَبْلَ خُرُوجِ الدَّجَّالِ ثَلاَثَ سَنَوَاتٍ شِدَادٍ يُصِيبُ النَّاسَ فِيهَا جُوعٌ شَدِيدٌ يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ فِى السَّنَةِ الأُولَى أَنْ تَحْبِسَ ثُلُثَ مَطَرِهَا وَيَأْمُرُ الأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَ نَبَاتِهَا ثُمَّ يَأْمُرُ السَّمَاءَ فِى السَّنَةِ الثَّانِيَةِ فَتَحْبِسُ ثُلُثَىْ مَطَرِهَا وَيَأْمُرُ الأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَىْ نَبَاتِهَا ثُمَّ يَأْمُرُ اللَّهُ السَّمَاءَ فِى السَّنَةِ الثَّالِثَةِ فَتَحْبِسُ مَطَرَهَا كُلَّهُ فَلاَ تَقْطُرُ قَطْرَةٌ وَيَأْمُرُ الأَرْضَ فَتَحْبِسُ نَبَاتَهَا كُلَّهُ فَلاَ تُنْبِتُ خَضْرَاءَ فَلاَ تَبْقَى ذَاتُ ظِلْفٍ إِلاَّ هَلَكَتْ إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ ». قِيلَ فَمَا يُعِيشُ النَّاسَ فِى ذَلِكَ الزَّمَانِ قَالَ « التَّهْلِيلُ وَالتَّكْبِيرُ وَالتَّسْبِيحُ وَالتَّحْمِيدُ وَيُجْرَى ذَلِكَ عَلَيْهِمْ مَجْرَى الطَّعَامِ

“Sesungguhnya tiga tahun sebelum munculnya Dajjal, adalah waktu yang sangat sulit, di mana manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat, Allah akan memerintahkan kepada langit pada tahun pertama untuk menahan sepertiga dari hujannya, dan memerintahkan kepada bumi untuk menahan sepertiga dari tanaman-tanamannya. Dan pada tahun kedua Allah akan memerintahkan kepada langit untuk menahan dua pertiga dari hujannya dan memerintahkan kepada bumi untuk menahan duapertiga dari tumbuh-tumbuhannya. Kemudian di tahun yang ketiga, Allah memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujannya, maka ia tidak meneteskan setetes air pun dan Allah memerintahkan kepada bumi untuk menahan semua tanaman-tanamannya, maka setelah itu tidak dijumpai satu tanaman hijau yang tumbuh dan semua binatang yang berkuku akan mati, kecuali yang tidak dikehendaki oleh Allah." Kemudian para sahabat bertanya, "Dengan apakah manusia akan hidup pada saat itu?" Beliau menjawab, "Tahlil, takbir dan tahmid akan sama artinya bagi mereka dengan makanan."[Shohihul Jaami’, 7875.]

Dalam riwayat-riwayat bahkan disebutkan, Dajjal memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, lantas langit pun menurunkan hujan. Dia memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, lantas bumi pun menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan segala hasilnya. Dia juga dapat memerintahkan tanah untuk segera tandus bila orang yang tinggal di tempat itu tidak mematuhinya.

Dajjal dapat menipu seolah-olah bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal, dengan bantuan setan, dan dia mengaku sebagai Tuhan. Dia dapat melintasi bumi dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan yang luar biasa. Serta kejadian-kejadian luar biasa lainnya.

Dalam hadits Nawwas bin Sam'an disebutkan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai Dajjal, "Wahai Rasulullah, berapa lamakah dia tinggal di bumi?"
Beliau menjawab, "Selama empat puluh hari, sehari seperti setahun, yang sehari lagi seperti sebulan, dan sehari lagi seperti sepekan, dan hari-hari lainnya seperti hari-harimu."
Rasulullah SAW menganjurkan kita berlindung dari fitnah Dajjal dengan berpegang teguh pada dinul Islam dan bersenjatakan iman dan mengenal namanama serta sifat-sifat Allah. Juga berlindung, khususnya pada waktu shalat, dengan doa, "Ya Allah, aku berlidung kepada-Mu dari adzab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah AlMasih Ad-Dajjal...." (Shahih Bukhari). Serta menghafal beberapa ayat dari surah Al-Kahfi, "Barang siapa menghafal sepuluh ayat dari permulaan surah AlKahfi, ia dilindungi dari (fitnah) Dajjal."

Dajjal akan menemui ajalnya oleh Nabi Isa AS, yang akan segera turun ke bumi setelah munculnya fitnah terbesar di dunia ini.

Ketika Nabi Isa turun, Dajjal berada di sekitar Baitul Maqdis dan Nabi Isa menemuinya di pintu Lod. Kemudian Nabi Isa mengejar dan membunuhnya. Pengikut-pengikut Dajjal pun dikejar dan dibunuh oleh kaum mukminin.

Sumber : madinatulilmi,com & FP = MENATA AKHLAQ Menuju Ridha dan Cinta-NYA
READ MORE...

Jumat, 02 November 2012

PEMAHAMAN TAREKAT

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Mohon Maaf bagi yang pernah membacanya. Semoga Hidayah
dari Allah SWT tak akan pernah putus jua datang ke
kita, Amin Ya Rabbal 'Alamin.

TAREKAT
Makna Tarekat secara harfiah adalah petunjuk, jalan,
cara atau metode. Apabila dikaitkan dengan bidang
Tasawuf, menurut Syeikh Najmuddin dalam bukunya
Jami'ul Auliya dapat diuraikan bahwa, "Syari'at adalah
himpunan peraturan, Tarekat adalah cara pelaksanaan,
Hakikat adalah keadaan, dan Makrifat adalah tujuan
akhirnya".
Untuk memperkuat uraian tersebut, Syeikh Najmuddin
memberi contoh tentang bersuci (mensucikan diri).
Menurut Syari'at Islam, bersuci dilakukan dengan air
atau tanah (Tayammum). Akan tetapi ada tingkatan yang
lebih tinggi dari bersuci yang tidak menyimpang dari
Syari'at, bahkan menyempurnakannya, yakni melakukan
bersuci secara Tarekat dengan membersihkan diri kita
dari hawa nafsu. Dengan demikian kebersihan itu
dilakukan secara Hakikat, yaitu mengosongkan hati dari
segala sesuatu yang bersifat selain Allah SWT.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
Tarekat dalam Tasawuf adalah suatu petunjuk yang harus
dilaksanakan oleh setiap calon sufi untuk mencapai
tujuannya, yakni berada di hadirat Allah SWT. Tanda
tercapainya tujuan itu adalah tidak adanya hijab,
dinding yang membatasi mata batin seseorang dengan
Allah SWT.

Sebelum mencapai tujuan itu, calon sufi harus melalui
beberapa tahapan:

1. Tobat
Memohon ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosanya baik
yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

2. Zuhud
Sikap hidup yang tidak terlalu mencintai kesenangan
duniawi baik itu berupa kedudukan, materi dan lain
sebagainya.

3. Ridha
Menerima segala takdir dari Allah SWT dengan senang
hati. Ciri-ciri orang yang ridha kepada Allah SWT
antara lain tidak pernah menyesali nasibnya sekalipun
sangat buruk dan tidak pernah berkeluh-kesah ketika
ditimpa musibah.

4. Mahabbah
Mencintai Allah dalam arti mematuhi segala perintah
dan menjauhi segala larangan-Nya dalam keadaan senang
maupun duka.

5. Makrifatullah
Mengenal Allah SWT dengan hati nurani. Jika seseorang
sudah mencapai tahap terakhir, maka ia telah menjadi
sufi.

Mencapai tingkatan sufi memang tidak gampang. Tahap
demi tahap yang harus dilaluinya cukup berat. Oleh
karena itu setiap Tarekat yang diakui sah oleh ulama
memiliki lima dasar pencapaian tujuan, yaitu:

1. Menuntut ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
semua perintah Allah SWT.

2. Mendampingi guru dan teman-teman sesama Tarekat
untuk melihat bagaimana cara melakukannya.

3. Meninggalkan segala rukhsah (keringanan atau
kemudahan buat yang tidak mampu memenuhi
syarat-rukunnya ibadah karena suatu sebab) dan ta'wil
(menafsirkan makna ayat-ayat yang memiliki beberapa
pengertian tersembunyi).

4. Memelihara diri dan memanfaatkan waktu dengan
segala zikir, wirid dan doa, guna mempertebal khusyu
dan hudur.

5. Mengekang diri dari segala hawa nafsu negatif agar
terhindar dari segala kemaksiatan dan kesalahan.

A. SULUK

Dalam praktek Tarekat dikenal istilah suluk, yakni
latihan dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai
suatu keadaan tertentu yang dilakukan oleh orang
salik, orang yang melakukan Tarekat tersebut.

Perlu diketahui bahwa Tarekat bertujuan mempelajari
kesalahan-kesalahan diri baik yang berkaitan dengan
amal ibadah maupun dengan pergaulan sehari-hari dengan
sesama manusia, kemudian berniat dan berusaha
semaksimal mungkin untuk memperbaikinya. Usaha
memperbaiki diri ini dilakukan oleh seorang guru, yang
kerap disebut syekh atau mursyid. Mengingat kesalahan
orang yang mulai menekuni Tarekat itu bermacam-macam,
maka usaha perbaikan yang diterapkan oleh syekh atau
mursyid tadi juga bermacam-macam. Dengan kata lain
jalan menuju tingkata sufi itu bermacam-macam.

Apabila diketahui seorang murid memiliki sifat tak
terpuji dalam bergaul dengan sesama manusia dan
senantiasa membanggakan diri, keturunan, kedudukan dan
sebagainya, maka sang mursyid atau guru mengajarkan
cara memperbaiki kesalahan dengan menyuruhnya memilih
suluk yang dinamakan thariqul khidmah wa bazlul jah,
yaitu mendidik murid agar sedikit demi sedikit
memperoleh kegemaran dalam berbuat kebajikan terhadap
sesama manusia dan menjauhi sifat membanggakan diri
dari segala sesuatu yang dimiliki.

Ada juga mursyid yang menganjurkan muridnya memilih
suluk 'jalan ibadah', yaitu memperbaiki kualits
praktik beribadah kepada Allah SWT meningkatkan
volumenya demi tercapainya kesempurnaan. Oleh karena
itu murid yang memilih suluk ini sibuk dengan air
wudhu, shalat, wirid dan zikir serta mengamalkan
ibadah-ibadah sunnah.

Kemudian ada suluk yang dinamakan thariqul mujahaidat
wa rukubil ahwat, yakni melatih murid agar hanya takut
pada Allah SWT, sehingga ia berani membenarkan yang
benar dan memperjuangkannya serta berani menyalahkan
yang salah dan menumpasnya. Suluk semacam ini
diajarkan kepada orang-orang yang memiliki sifat
pengecut dan penakut dalam menghadapi ketidakadilan.

Ada beberapa hal yang harus dilaksanakan dalam suluk,
yaitu:

1. Seorang murid bertobat di depan mursyid dan
menyerahkan diri kepadanya untuk menyempurnakan segala
amalan dalam suluknya.
Acara ini dilakukan sebagai suatu upacara, kadang
dihadiri oleh beberapa orang. Inilah yang sering
disebut tahkim. Dalam tahkim dibaca lafadz basmalah,
dua kalimat syahadat, ayat-ayat Al-Quran yang berisi
wasiat agar tahut kepada Allah, mengaku rela ber-Tuhan
Allah, rela beragama Islam, rela bernabi Muhammad,
kemudian berbai'at (sumpah untuk selalu patuh pada
janji yang selalu diucapkannya) dan ber-syeikh kepada
orang yang menjadi gurunya. Setelah itu sang mursyid
meminta para hadirin membacakan kalimat Fatihah untuk
si murid.

2. Berbekal takwa, yaitu takut kepada Allah dengan
sesungguhnya.
Dalam hal ini mursyid menekankan arti takwa, dengan
menganjurkan untuk melaksanakan taat secara lahir
batin dan meninggalkan segala macam maksiat lahir
batin.

3. Memelihara zikir, yang menurut Abu Ali Ad-daqdaq
merupakan pedang bagi seorang murid untuk membasmi
musuh-musuhnya yaitu hawa nafsu dan setan.
Selain itu menurut Abdul Wahab Asy-Sya'rani - Tarekat
terkenal - berzikir secara terus-menerus dapat
menghilangkan penyakit-penyakit hati seperti angkuh,
sombong, ria, iri dan sebangsanya.

4. Memelihara himma, yaitu kesungguhan hati dan tekad
untuk menjalani suluk secara terus-menerus tanpa
merasa lelah agar dapat mencapai martabat yang tinggi
yang dapat membawanya kepada maqam-maqam yang mulia,
yaitu maqam-maqam wali Allah dan Arifin.

5. Mentaati guru yang mengetahui jalan kepada Allah
SWT dan membimbingnya mencapai tujuan tersebut.

6. Mendirikan seluruh amal ibadah yang wajib dan yang
sunnah.
Dengan demikian seseorang yang mengikuti Tarekat
haruslah menguasai sepenuhnya pengetahuan tentang
Syari'at.

Selain menjalankan kewajiban di atas, bila dianggap
perlu, mursyid menganjurkan muridnya untuk menjalankan
beberapa keharusan lain, yaitu:

1. Menahan lapar dan haus dengan mengurangi makan dan
minum.
Tujuannya untuk membersihkan hati dan menolak godaan
syetan. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda
pada Aisyah, "Sempitkan lorong lalu-lintas setan
dengan menahan lapar."

2. Mengurangi tidur dan memperbanyak beribadah di
malam hari.
Banyak tidur mengakibatkan hati mati dan pikiran
tumpul.

3. Memelihara sammat, yakni berdiam diri, berbicara
seperlunya.
Dikecualikan apabila berbicara dalam hal menerangkan
tentang masalah-masalah agama, misalnya seperti
memberi nasihat.

B. MACAM-MACAM TAREKAT

Jumlah Tarekat yang diakui kebenarannya cukup banyak,
akan tetapi yang memiliki anggota sampai kini antara
lain tinggal tujuh macam, yaitu:

1. Tarekat Khalawatiyah
2. Tarekat Naksyabandiyah
3. Tarekat Qadiriyah
4. Tarekat Rifa'yah
5. Tarekat Sammaniyah
6. Tarekat Syaziliyah
7. Tarekat Tijaniyah

Berikut uraian atas seputar Tarekat tersebut:

1. TAREKAT KHALAWATIYAH

Cabang dari Tarekat Aqidah Suhrardiyah yang didirikan
di Baghdat oleh Abdul Qadir Suhrawardi dan Umar
Suhrawardi. Mereka menamakan diri golongan Siddiqiyah
karena mengklaim sebagai keturunan kahlifah Abu Bakar
r.a. Khalawatiyah ini didirikan di Khurasan oleh
Zahiruddin dan berhasil berkembang sampai ke Turki.
Tidak mengherankan jika Tarekat Khalawatiyah ini
banyak cabangnya antara lain; Tarekat Dhaifiyah di
Mesir dan di Somalia dengan nama Salihiyah.

Tarekat Khalawatiyah ini membagi manusia menjadi tujuh
tingkatan:

a. Manusia yang berada dalam nafsul ammarah
Ialah mereka yang jahil, kikir, angkuh, sombong,
pemarah, gemar kepada kejahatan, dipengaruhi syahwat
dan sifat-sifat tercela lainnya. Mereka ini bisa
membebaskan diri dari semua sifat-sifat tidak terpuji
tersebut dengan jalan memperbanyak zikir kepada Allah
SWT dan mengurangi makan-minum. Maqam mereka adalah
aghyar, artinya kegelap-gulitaan.

b. Manusia yang berada dalam nafsul lawwamah
Ialah mereka yang gemar dalam mujahaddah (meninggalkan
perbuatan buruk) dan berbuat saleh, namun masih suka
bermegah-megahan dan suka pamer. Cara untuk
melenyapkan sifat-sifat buruk tersebut adalah
mengurangi makan-minum, mengurangi tidur, mengurangi
bicara, sering menyendiri dan memperbanyak zikir serta
berpikir yang baik-baik. Maqam mereka adalah anwar,
artinya cahaya yang bersinar.

c. Manusia yang berada dalam nafsul mulhamah
Ialah mereka yang kuat mujahaddah dan tajrid, karena
ia telah menemui isyarat-isyarat tauhid, namun belum
mampu melepaskan diri dari hukum-hukum manusia. Cara
untuk melepaskan kekurangannya adalah dengan jalan
menyibukkan batinnya dalam Hakikat Iman dan
menyibukkan diri dalam Syari'at Islam. Maqam mereka
adalah kamal, artinya kesempurnaan.

d. Manusia yang berada dalam nafsul muthma'innah
Ialah mereka yang tidak sedikit pun meninggalkan
ajaran Islam, mereka merasa nyaman jika berakhlak
seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan
merasa belum tentram hatinya jika belum mengikuti
petunjuk dan sabda Beliau. Manusia seperti ini sangat
menyenangkan siapa pun yang melihatnya dan mengajaknya
berbicara.

e. Manusia yang berada dalam nafsul radhiyah
Ialah mereka yang sudah tidak menggantungkan diri
kepada sesama manusia, melainkan hanya kepada Allah
SWT. Mereka umumnya sudah melepaskan sifat-sifat
manusia biasa. Maqam mereka adalah wisal, artinya
sampai dan berhubungan.

f. Manusia yang berada dalam nafsul mardhiyah
Ialah mereka yang telah berhasil meleburkan dirinya ke
dalam kecintaan khalik dan khalak, tidak ada
penyelewengan dalam syuhudnya. Ia menepati segala
janji Tuhan dan meletakkan segala sesuatu pada
tempatnya. Maqam mereka adalah tajalli af'al, artinya
kelihatan Tuhan.

g. Manusia yang berada dalam nafsul kamillah
Ialah mereka yang dalam beribadah menyertakan
badannya, lidahnya, hatinya dan anggota-anggota
tubuhnya yang lain. Mereka ini banyak beristighfar,
banyak ber-tawadhu' (rendah hati atau tidak suka
menyombongkan diri). Kesenangan dan kegemarannya
adalah dalam tawajjuh khalak. Maqam mereka adalah
tajalli sifat, artinya tampak nyata segala sifat
Tuhan.

2. TAREKAT NAKSYABANDIYAH

Pendiri Tarekat Naksyabandiyah ialah Muhammad bin
Baha'uddin Al-Huwaisi Al Bukhari (717-791 H). Ulama
sufi yang lahir di desa Hinduwan - kemudian terkenal
dengan Arifan, beberapa kilometer dari Bukhara.
Pendiri Tarekat Naksyabandiyah ini juga dikenal dengan
nama Naksyabandi yang berarti lukisan, karena ia ahli
dalam memberikan gambaran kehidupan yang ghaib-ghaib.
Kata 'Uwais' ada pada namanya, karena ia ada hubungan
nenek dengan Uwais Al-Qarni, lalu mendapat pendidikan
kerohanian dari wali besar Abdul Khalik Al-Khujdawani
yang juga murid Uwais dan menimba ilmu Tasawuf kepada
ulama yang ternama kala itu, Muhammad Baba Al-Sammasi.

Tarekat Naksyabandiyah mengajarkan zikir-zikir yang
sangat sederhana, namun lebih mengutamakan zikir dalam
hati daripada zikir dengan lisan.

Ada enam dasar yang dipakai sebagai pegangan untuk
mencapai tujuan dalam Tarekat ini, yaitu:
a. Tobat
b. Uzla
Yaitu mengasingkan diri dari masyarakat ramai yang
dianggapnya telah mengingkari ajaran-ajaran Allah dan
beragam kemaksiatan, sebab ia tidak mampu
memperbaikinya.
c. Zuhud
d. Taqwa
e. Qanaah
Yaitu menerima dengan senang hati segala sesuatu yang
dianugerahkan oleh Allah SWT.
f. Taslim

Hukum yang dijadikan pegangan dalam Tarekat
Naksyabandiyah ini juga ada enam, yaitu:
a. Zikir
b. Meninggalkan hawa nafsu
c. Meninggalkan kesenangan duniawi
d. Melaksanakan segenap ajaran agama dengan
sungguh-sungguh
e. Senantiasa berbuat baik (ihsan) kepada makhluk
Allah SWT
f. Mengerjakan amal kebaikan

3. TAREKAT QADIRIYAH

Pendiri Tarekat Qadiriyah adalah Syeikh Abduk Qadir
Jailani, seorang ulama yang zahid, pengikut mazhab
Hambali. Ia mempunyai sebuah sekolah untuk melakukan
suluk dan latihan-latihan kesufian di Baghdad.
Pengembangan dan penyebaran Tarekat ini didukung oleh
anak-anaknya antara lain Ibrahim dan Abdul Salam.
Sebagaimana Tarekat yang lain, Qadiriyah juga memiliki
dan mengamalkan zikir dan wirid tertentu.

Sejak kecil, Syeikh Abdul Qadir telah menunjukkan
tanda-tanda sebagai Waliyullah yang besar. Ia adalah
anak yang sangat berbakti pada orang tua, jujur, gemar
belajar dan beramal serta menyayangi fakir miskin dan
selalu menjauhi hal0hal yang bersifat maksiat. Ia
memang lahir dan dididik dalam keluarga yang taat
karena ibunya yang bernama Fatimah dan kakeknya
Abdullah Sum'i adalah wali Allah SWT.

Syeikh Abdul Qadir Jailani dikaruniai oleh Allah SWT
keramat sejak masih muda, sekitar usia 18 tahun.
Dikisahkan dalam manaqib (biografi) beliau bahwa
ketika ia akan membajak sawah, sapi yang menarik bajak
mengatakan kepadanya, "Engkau dilahirkan ke dunia
bukan untuk kerja begini." Peristiwa yang mengejutkan
ini mendorongnya untuk bergegas pulang. Ketika ia naik
ke aatas atap rumah, mata batinnya melihat dengan
jelas suatu majelis yang sangat besar di Padang
Arafah. Setelah itu ia memohojn kepada ibunya agar
membaktikan dirinya kepada Allah SWT dan berkenan
mengirimkannya ke kota Baghdad yang kala itu menjadi
pusat ilmu pengetahuan yang terkenal bagi kaum
muslimin. Dengan sangat berat hati ibunya pun
mengabulkannya.

Suatu hari bergabunglah Abdul Qadir Jailani dengan
kafilah yang menuju Baghdad. Ketika hampir sampai di
tujuan, kafilah ini dikepung oleh sekawanan perampok.
Semua harta benda milik kafilah dirampas, kecuali
bekal yang dibawa oleh Abdul Qadir Jailani. Salah
seorang kawanan perampok kemudian mendatanginya dan
bertanya, "Apa yang engkau bawa?" Dengan jujur Abdul
Qadir Jailani menjawab, "Uang empat puluh dinar."

Perampok itu membawa Abdul Qadir Jailani menghadap
pimpinannya dan menceritakan tentang uang empat puluh
dinar. Pemimpin perampok itu pun segera meminta uang
yang empat puluh dinar tadi, namun ia merasa terpesona
oleh kepribadian Abdul Qadir Jailani. "Mengapa engkau
berkata jujur tentang uang ini?" Dengan tenang Abdul
Qadir Jailani, "Saya telah berjanji kepada ibu untuk
tidak berbohong kepada siapapun dan dalam keadaan
apapun.

Seketika pemimpin perampok tersebut terperangah,
sejenak kemudian ia menangis dan menyesali segala
perbuatan zalimnya. "Mengapa saya berani terus-menerus
melanggar peraturan Tuhan, sedangkan pemuda ini
melanggar janji pada ibunya sendiri saja tidak
berani." Ia kemudian memerintahkan semua barang
rampasan kepada pemiliknya masing-masing dan sejak itu
berjanji untuk mencari rezeki dengan jalan yang halal.

Semasa Abdul Qadir Jailani masih hidup, Tarekat
Qadiriyah sudah berkembang ke beberapa penjuru dunia,
antara lain ke Yaman yang disiarkan oleh Ali bin
Al-Haddad, di Syiria oleh Muhammad Batha', di Mesir
oleh Muhammad bin Abdus Samad serta di Maroko,
Turkestan dan India yang dilakukan oleh anak-anaknya
sendiri. Mereka sangat berjasa dalam menyempurnakan
Tarekat Qadiriyah. Mereka pula yang menjadikan tarekat
ini sebagai gerakan yang mengumpulkan dan menyalurkan
dana untuk keperluan amal sosial.

4. TAREKAT RIFAIYAH

Pendirinya Tarekat Rifaiyah adalah Abul Abbas Ahmad
bin Ali Ar-Rifai. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat
Basrah pada tahun 500 H (1106 M), sedangkan sumber
lain mengatakan ia lahir pada tahun 512 H (1118 M).
Sewaktu Ahmad berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal
dunia. Ia lalu diasuh pamannya, Mansur Al-Batha'ihi,
seorang syeikh Trarekat. Selain menuntut ilmu pada
pamannya tersebut ia juga berguru pada pamannya yang
lain, Abu Al-Fadl Ali Al Wasiti, terutama tentang
Mazhab Fiqh Imam Syafi'i. Dalam usia 21 tahun, ia
telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan
khirqah 9 sebagai pertanda sudah mendapat wewenang
untuk mengajar.

Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan
zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh
suara gendang yang bertalu-talu. Zikir tersebut
dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana
mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang
menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara
api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan
oleh senjata tajam.

5. TAREKAT SAMMANIYAH

Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan
Syeikh Muhammad Saman, seorang guru masyhur yang
mengajarkan Tarekat di Madinah. Banyak orang Indonesia
terutama dari Aceh yang pergi ke sana mengikuti
pengajarannya. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika
Tarekat ini tersebar luas di Aceh dan terkenal dengan
nama Tarekat Sammaniyah.

Sebagaimana guru-guru besar Tasawuf, Syeikh Muhammad
Saman terkenal akan kesalehan, kezuhudan dan
kekeramatannya. Salah satu keramatnya adalah ketika
Abdullah Al-Basri - karena melakukan kesalahan -
dipenjarakan di Mekkah dengan kaki dan leher di
rantai. Dalam keadaan yang tersiksa, Al-Basri menyebut
nama Syeikh Muhammad Saman tiga kali, seketika
terlepaslah rantai yang melilitnya. Kepada seorang
murid Syeikh Muhammad Saman yang melihat kejadian
tersebut, Al-Basri menceritakan, "kulihat Syeikh
Muhammad Saman berdiri di depanku dan marah. Ketika
kupandang wajahnya, tersungkurlah aku pingsan. Setelah
siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus."

Perihal awal kegiatan Syeikh Muhammad Saman dalam
Tarekat dan Hakikat, menurut Kitab Manaqib Tuan Syeikh
Muhammad Saman, adalah sejak pertemuannya dengan
Syeikh Abdul Qadir Jailani. Kisahnya, di suatu ketika
Syeikh Muhammad Saman berkhalwat (bertapa) di suatu
tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada
waktu itu datang Syeikh Abdul Qadir Jailani membawakan
pakaian jubah putih. "Ini pakaian yang cocok untukmu."
Ia kemudian memerintahkan Syeikh Muhammad Saman agar
melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang
dibawanya. Konon semula Syeikh Muhammad Saman
menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari
Rasulullah SAW menyebarkannya dalam kota Madinah.

Tarekat Sammaniyah juga mewiridkan bacaan zikir yang
biasanya dilakukan secara bersama-sama pada Malam
Jum'at di masjid-masjid atau mushalla sampai jauh
tengah malam. Selain itu ibadah yang diamalkan oleh
Syeikh Muhammad Saman yang diikuti oleh murid-muridnya
sebagai Tarekat antara lain adalah shalat sunnah
Asyraq dua raka'at, shalat sunnah Dhuha dua belas
raka'at, memperbanyak riadhah (melatih diri lahir
batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) dan
menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

6. TAREKAT SYAZILIYAH

Pendiri Tarekat Syaziliyah adalah Abdul Hasan Ali
Asy-Syazili, seorang ulama dan sufi besar. Menurut
silsilahnya, ia masih keturunan Hasan, putra Ali bin
Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW. Ia
dilahirkan pada 573 H di suatu desa kecil di kawasan
Maghribi. Tentang arti kata "Syazili" pada namanya
yang banyak dipertanyakan orang kepadanya, konon ia
pernah menanyakannya kepada Tuhan dan Tuhan pun
memberikan jawaban, "Ya Ali, Aku tidak memberimu nama
Syazili, melainkan Syazz yang berarti jarang karena
keistimewaanmu dalam berkhidmat kepada-Ku.

Ali Syazili terkenal sangat saleh dan alim, tutur
katanya enak didengar dan mengandung kedalaman makna.
Bahkan bentuk tubuh dan wajahnya, menurut orang-orang
yang mengenalnya, konon mencerminkan keimanan dan
keikhlasan. Sifat-sifat salehnya telah tampak sejak ia
masih kecil. Apalagi setelah ia berguru pada dua ulama
besar - Abu Abdullah bin Harazima dan Abdullah
Abdussalam ibn Masjisy - yang sangat meneladani
khalifah Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib.

Dalam jajaran sufi, Ali Syazili dianggap seorang wali
yang keramat. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ia
pernah mendatangi seorang guru untuk mempelajari suatu
ilmu. Tanpa basa-basi sang guru mengatakan kepadanya,
"Engkau mendapatkan ilmu dan petunjuk beramal dariku?
Ketahuilah, sesungguhnya engkau adalah salah seorang
guru ilmu-ilmu tentang dunia dan ilmu-ilmu tentang
akhirat yang terbesar." Kemudian pada suatu waktu,
ketika ingin menanyakan tentang Ismul A'zam kepada
gurunya, seketika ada seorang anak kecil datang
kepadanya, "Mengapa engkau ingin menanyakan tentang
Ismul A'zam kepada gurumu? Bukankah engkau tahu bahwa
Ismul A'zam itu adalah engkau sendiri?"

Tarekat Syaziliyah merupakan Tarekat yang paling mudah
pengamalannya. Dengan kata lain tidak membebani
syarat-syarat yang berat kepada Syeikh Tarekat. Kepada
mereka diharuskan:

a. Meninggalkan segala perbuatan maksiat.
b. Memelihara segala ibadah wajib, seperti shalat lima
waktu, puasa Ramadhan dan lain-lain.
c. Menunaikan ibadah-ibadah sunnah semampunya.
d. Zikir kepada Allah SWT sebanyak mungkin atau
minimal seribu kali dalam sehari semalam dan
beristighfar sebanyak seratus kali sehari-semalam dan
zikir-zikir yang lain.
e. Membaca shalawat minimal seratus kali
sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.

7. TAREKAT TIJANIYAH

Pendiri Tarekat Tijaniyah ialah Abdul Abbas bin
Muhammad bin Muchtar At-Tijani (1737-1738), seorang
ulama Algeria yang lahir di 'Ain Mahdi. Menurut sebuah
riwayat, dari pihak bapaknya ia masih keturunan Hasan
bin Ali bin Abu Thalib. Keistimewaannya adalah pada
saat ia berumur tujuh tahun, Konon Tijani sudah
menghapal Alqur'an, kemudian mempelajari pengetahuan
Islam yang lain, sehingga ia menjadi guru dalam usia
belia.

Ketika naik haji di Madinah, Tijani berkenalan dengan
Muhammad bin Abdul Karim As-Samman, pendiri Tarekat
Sammaniyah. Setelah itu ia mulai mempelajari ilmu-ilmu
rahasia batin. Gurunya yang lain dalam bidang Tarekat
ini ialah Abu Samghun As-Shalasah. Dari sinilah
pandangan batinnya mulai terasah. Bahkan konon dalam
keadaan terjaga ia bertemu Nabi Muhammad SAW yang
mengajarkan kepadanya beberapa wirid, istighfar dan
shalawat yang masing-masing harus diucapkan seratus
kali dalam sehari semalam. Selain itu Nabi Muhammad
SAW juga memerintahkan agar Tijani mengajarkan
wirid-wirid tersebut kepada semua orang yang
menghendakinya.

Wirid-wirid yang harus diamalkan dalam Tarekat
Tijaniyah sangat sederhana, yaitu terdiri dari
istighfar seratus kali, shalawat seratus kali dan
tahlil seratus kali. Semua wirid tersebut boleh
diamalkan dua waktu sehari yaitu pagi setelah Shalat
Shubuh dan sore setelah Shalat Ashar.


Sumber:
Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam; Edisi
Senior, Cetakan VIII, Penebar Salam, Jakarta,
September 2000

READ MORE...

Senin, 22 Oktober 2012

Sebuah Renungan Tentang Shalat

Reungkanlah:

  • Islam menuntun penganutnya hidup di dunia bahagia dan di akhirat masuk surga dengan pedoman kepada al-quran dan Hadist
  • Bahagia adalah suatu perasaan yang di dasari oleh materi yang mengakibatkan tidak ada lagi rasa was-was, takut, gelisah, stres. karena hidup dan mati ini hanya karena Allah semata.
  • surga adalah segala sesuatu yang paling menyenangkan didunia ini, tidak ada seujung kukunya kesenangan di surga
  • sedangkan neraka adalah segala sesuatu yang paling menyakitkan di dunia ini, tidak ada se ujung kukunya kesakitan di neraka.
  • jadi apalah artinya kesenangan di dunia ini kalau nantinya akan mengakibatkan diri digiring keneraka
Renungkanlah:
  • Hidup didunia ini adalah kompetisi untuk menentukan tempat kelak kita di akhirat yaitu surga dan neraka. ini sangat tergantung kepada persiapan apa yang di lakukan untuk mencapai tempat mana yang kita inginkan nanti di akhirat.
  • salah satu ibadah yang paling utama adalah shalat, dimana begitu istimewahnya shalat, sampai-sampai jibril pun tidak di percaya oleh Allah untuk menyampaikan perintah shalat kepada Rasulullah.
  • Allah menyuruh langsung Rasulullah untuk datang menghadap dalam bentuk Mi'raj agar langsung di dengar perintah shalat tersebut oleh Rasulullah.
Rasulullah saat sakaratul Mautnya, berpesan untuk umatnya: Peliharalah shalat, peliharalah shalat, peliharalah shalat.

Renungkanlah: 
  • Sabda Rasulullah SAW  : di akhirat nanti ada orang yang membawa shalatnya di hadapan Allah SWT, kemudian shalatnya di terima dan di lipat-lipatnya kain usang dan kotor lalu shalatnya itu di bantingkan kewajahnya.
  • Sabda Rasulullah SAW : Bagi orang yang berangan-angan dalam shalatnya, maka ia tidak akan memperoleh apapun selain dari angan-angannya itu.
  • Sabda Rasulullah SAW : sesungguhnya perumpamaan shalat itu seperti orang yang yang mandi. Bila seseorang mandi 5 kali sehari, tetapi badannya belum juga bersih, boleh jadi karena air yang di gunakan untuk mandi tersebut memang kotor, atau di waktu mandi ia tidak menggunakan sabun. jadi jika ada orang yang mengerjakan 5 kali sehari, tetapi perilakunya masih tetap saja buruk, berarti orang tersebut belum memahami benar akan artinya shalat.
Hakikat shalat:

pada hakikatnya shalat adalah aktivitas yang mempunyai arti sebagai berikut:
  • menyanjung dan memuji Allah : Allahu Akbar, Maha suci Allah dan Maha Agung, Maha Tinggi Allah , Maha Pengasih dan maha Penyayang.
  • Membuat janji/komitmen dengan Allah : Sesungguhnya shalat ku, Ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah semata dan tidak akan menerikatkan Allah.
  • memohon kepada Allah , meminta jalan yang lurus, ampunan, disayangi, cukupi kekurangan, tinggikan derajat, rezeki, petunjuk, kesehatan.
  • mendoakan Rasulullah yaitu Shalawat
Fakta :

Fakta yang ada dalam lingkungan kita adalah :
  • Bagaimana agar sembahyang kita bisa khusuk, sehingga keluarlah berbagai macam aturan yang didominasi oleh kata-kata jangan dan harus, misalnya: jangan bawa pikiran yang lain dalam shalat, wajah harus tetap kesajadah dan lainya.
  • Shalat di lakukan hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban sehingga sering di lakukan buru-buru, tetapi saat berdoa cukup lama.
  • sementara mulut mengucapkan bacaan shalat, namun hati melanglang buana entah kemana, tahu-tahu shalat sudah selesai. ini tidak beda dengan orang mabuk, tidak mengerti apa yng sedang di ucapkannya. inilah yang dikatakan dalam QS: Al-Ma'un 107: 004-005 : maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yakni) orang yang lalai dari shalatnya.
Fakta :
  • sebaliknya, QS Al Mu'minun 23: 001-002 : sesungguhnya berungtunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusu' dalam shalatnya
  • coba kita ingat-ingat bila di panggil atasan betapa kita datang dengan rapi dan bertutur kata lembut , dan mengerti persis apa yang akan di ucapkan, jarang berpikir hal-hal lain, apalagi bila itu menyangkut kelangsungan jabatan.
  • berjanji dalam shalat tidak akan mengserikatkan Allah, tetapi kenyataannya dalam shalat secara tidak sadar telah melakukan serikat kepada Allah. (syirik)
  • syirik bukan saja menyembah berhala. tetapi juga bila kalbu ini didominasi oleh hal-hal selain Allah. (Syirik Adalah dosa yang tidak terampun)
Shalat Kita :
penduduk indonesia yang dominan beragama islam dan melaksanakan shalat, namun shalat tidak dapat mencegah yang keji dan mungkar sesuai dengan tujuan shalat itu sendiri, QS Al Ankabut 29: 045: bacalah yang telah di wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah Shalat.
sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (Shalat) adalah lebih besar (Keutamannya dari ibadat-ibadat lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan .
ini bisa kita lihat dari betapa banyak maksiat yang masih terjadi berupa: perkosaan, perzinahan, pembunuhan, korupsi, penipuan, perampokan, penyogokan dan lain sebagainya.

Tafakkurlah:

mari bertafakkur sejenak untuk memperkuat keyakinan ilahiyah, sebab sabda Rasulullah : bertafakkur sejenak, lebih baik dari pada ibadah satu tahun.
 bila datang kepada kita malaikat jibril yang menyampaikan bahwa umur kita tinggal 2 jam lagi. apa yang di perbuat? tentulah sikap yang timbul adalah dengan rasa takut, rendah diri dan penuh harap tampa lagi menghiraukan harta, istri dan anak, mendirikan shalat tobat dan memohon ampunan-Nya. bahkan selama 2 jam tersebut akan digunakan untuk memperbanyak ibadah-ibadah lainnya.
maka anggaplah bahwa shalat ini adalah shalat yang terakhir, seolah-olah habis shalat ini akan meninggal. QS An Naml 27: 003 (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

Tafakkurlah:
tidak dihitung amalan yang lain apabila shalat tidak di terima. kita akan berkomunikasi langsung dengan Allah yang maha Melihat, maha Mendengar. QS. Asy Syu'araa' 26: 218: yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang).
syirik adalah dosa yang tidak terampun. QS. An Nisa' 04: 48: sesungguhnya Allah tidak akan Mengampuni dosa syirik dan dia mengampuni segala Dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendakinya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar QS An Nisa' 04:116 : sesungguhnya Allah tidak mengampuni Dosa Mempersekutukan (sesuatu) dengan dia, dan dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang di kehendaki-Nya.
READ MORE...

Kamis, 05 Januari 2012

Menegakkan Agama Tauhid: Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim AS

Islam adalah agama tauhid yang meng-Esa-kan Allah SWT secara mutlak; suci dan murni dari segala unsur kesyirikan. Hanya Allah yang berkuasa, dan tidak ada sesuatu pun yang berkuasa selain-Nya. Yang ada hanya Khalik (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan). Selain Allah adalah makhluk dan tidak memiliki kekuatan apa-apa selain yang Allah titipkan kepadanya. Sebenarnya, agama yang bersumber dari Allah adalah agama tauhid. Bahkan tiga agama besar—Yahudi, Nasrani, dan Islam—adalah agama tauhid. Tetapi pada perkembangan selanjutnya, Yahudi dan Nasrani tidak lagi agama tauhid karena mereka mengakui ada unsur lain selain Allah. Hanya Islam yang tetap bertahan, sebab Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul penutup (khatam al-anbiya’i wa al-mursalin) dan Islam adalah agama sempurna lagi penyempurna. Untuk itu, umat Islam mesti tetap menegakkan agama tauhid, bukan hanya sebatas lip service, tetapi mewarnai seluruh aktivitas kehidupannya. Keyikannya hanya kepada Allah semata, tanpa tergantung kepada selainnya. Ini tidak mudah, tetapi butuh perjuangan (jihad).

Untuk menegakkan agama tauhid, baik dalam diri sendiri secara pribadi, dalam lingkungan keluarga, lingkungan sesama muslim, ataupun dalam masyarakat yang plural, perlu kiranya kita meneladani dan belajar dari kisah perjuangan Nabi Ibrahim AS. Sebab, sebagaimana ya
ng disebutkan oleh Ali Syari’ati, Ibrahim adalah bapak “Monotheisme”. Disebut demikian mengingat perjuangannya dalam mencari dan menemukan Allah sebagai Tuhan yang Esa serta perjuangannya dalam menegakkan agama tauhid tersebut kepada kaum dan anak keturunannya. Dari keturunannya pulalah lahir tiga agama besar, Yahudi, Nasrani dan Islam. Dua agama pertama dibawa oleh Nabi yang juga keturunan dari anaknya, Ishaq. Sementara Islam dibawa Nabi Muhammad yang merupakan keturunan dari anaknya, Isma’il.
Awalnya Ibrahim adalah seorang anak yang hidup di bawah keluarga yang musyrik. Ayahnya Azar adalah pembuat patung yang ternama. Namun dengan kecerdasan akalnya, Ibrahim tidak menerima apa yang diperbuat oleh ayahnya beserta kaumnya. Menurutnya, bagaimana mungkin manusia menyembah apa yang ia buat sendiri? Mestinya Yang Disembah itulah yang menciptakan manusia. Ia pun melakukan kritik yang tajam kepada ayahnya sendiri seraya berkata "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".

Tanpa ada bantuan dari orang-orang di sekitarnya, Ibrahim pun menggunakan potensi akal dan hatinya untuk mencari dan menemukan Tuhan yang haq untuk disembah. Ketika malam tiba, ia menyaksikan bintang yang gemerlapan. Ia pun mengagumi keindahan dan pancaran sinar yang dimunculkan bintang itu, sehingga dia berkata "Inilah tuhanku". Tatkala bulan terbit, ia pun lebih mengaguminya seraya berucap "Inilah tuhanku". Tetapi, ketika bulan itu sirna, ia pun menyadari bahwa bulan bukan Tuhannya. Muncul pula matahari dengan sinar yang sangat terang, ia kembali berkata "Inilah tuhanku, ini yang lebih besar". Lagi-lagi matahari itu kembali terbenam di senja hari. (Lihat Q.s. al-An'am/6:74-78).

Akhirnya, dengan kecerdasan akal dan hatinya yang suci, Allah membimbingnya lalu memberikan hidayah bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Allah SWT. Ibrahim pun diangkat menjadi Nabi dan Rasul-Nya lalu mengemban amanah untuk menyeru kaumnya untuk mengesakan Allah.

Untuk mengajak kaumnya, bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia mendapat pertentangan dan perlawanan (makar) yang hebat, terutama dari Raja Namrud. Selain memohon pertolongan dari Allah, ia juga menggunakan pendekatan rasional untuk menyeru kaumnya meninggalkan berhala yang mereka sembah. Suatu ketika, Nabi Ibrahim memasuki tempat berhala itu dikumpulkan, lalu ia hancurkan hingga terpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain.

Ketika kaumnya yang ingkar itu kembali ke tempat itu, mereka pun terkejut menyaksikan sesembahannya hancur porak-poranda. Setelah dilakukan penyelidikan, mereka pun menyimpulkan bahwa semua itu adalah perbuatan Ibrahim. Mereka pun memanggil Ibrahim di hadapan orang banyak dan bertanya: "apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami hai Ibrahim?" Dengan tenang Ibrahim menjawab, "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Jawaban itu memancing jawaban dari kaumnya sehingga mereka berkata, "Sesungguhnya engkau (Ibrahim) tahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Jawaban ini digunakan Ibrahim untuk bertanya sebaliknya, "Lalu mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula memberi mudarat kepada kamu?"

Namun, karena hati mereka masih tertutup, dialog yang sangat rasional dan argumentatif itu tidak membuat kaumnya mau mengakui keesaan Allah. Malah mereka menangkap dan membakar Ibrahim hidup-hidup. Tetapi dengan kebesaran dan kebenaran Allah, api yang sifatnya membakar hanyalah membakar kayu bakar yang menumpuk. Sementara tubuh Ibrahim tidak terbakar sedikit pun, karena api itu diperintahkan Allah menjadi dingin dan menyelamatkan diri Nabi Ibrahim AS. (lihat Q.s. al-Anbiya'/21: 58-69).

Dari kisah singkat di atas, dapat dipahami betapa hebatnya perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam menegakkan agama Tauhid. Sebagai umat Nabi Muhammad SAW banyak hal yang patut kita ambil pelajaran dari perjuangan Nabi Ibrahim AS tersebut. Pertama, mensucikan diri dari pemberhalaan. Untuk kondisi hari ini, umat Islam memang tidak dihadapkan kepada persolan berhala sebagaimana yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS. Tetapi substansi berhala itu tampaknya masih ada di tengah-tengah masyarakat kita. Setidaknya ada dua makna berhala di sini. Berhala pertama diartikan sebagai tempat bergantung. Kaum Nabi Ibrahim, memiliki ketergantungan kepada berhala-berhala tersebut, meskipun berhala itu mereka yang membuatnya. Terutama ayahnya, patung bukan saja sesembahannya, tetapi menjadi mata pencariannya, karena dia adalah pemahat patung.

Dewasa ini, orang memang tidak tergantung kepada berhala dalam bentuk patung yang dipahat dari batu atau kayu. Tetapi orang bisa memiliki ketergantungan kepada harta, jabatan, atau kepada orang-orang yang dicintai. Seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk menumpuk kekayaan dirinya. Dalam pikirannya tertanam bahwa harta adalah segala-galanya, bahkan orang lain pun dinilai dari hartanya. Mereka inilah yang disinggung Allah dalam firman-Nya: "…yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya dan mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya." (Q.s. al-Humazah/104:2-3).

Ada orang yang tergantung hidupnya kepada jabatan. Ia halalkan segala cara untuk meraih suatu jabatan. Baginya jabatan adalah segala-galanya dan diyakini dapat membahagiakan hidupnya. Ada pula yang tergantung kepada orang lain. Orang itu bisa berupa majikan, atasan, atau orang yang sangat dicintai, seperti istri/suami, anak, orang tua, dan sebagainya. Ia tidak sanggup hidup tanpa kehadiran mereka.
Orang-orang seperti itu telah menjadikan harta, jabatan dan orang lain sebagai berhala dalam kehidupannya. Mereka lupa, bahkan berpaling, dari Allah yang telah memberikan kehidupan ini.

Makna kedua dari berhala adalah menyetukukan Allah. Berhala adalah lambang kemusyrikan. Banyak hal yang dapat membuat seseorang itu berlaku musyrik yang kadang tanpa disadarinya. Kemusyrikan yang dimaksud adalah adanya keyakinan bahwa ada kekuatan lain selai kekuatan dari Allah. Dewasa ini, kemusyrikan itu biasanya ditemukan melalui praktek perdukunan atau kegiatan mistik lainnya. Semua ini dapat mengaburkan akidah seseorang dan jelas telah merusak kemurnian tauhidnya.

Ironisnya, adanya pengakuan terhadap kekuatan mistik ini, secara perlahan ditanamkan kepada generasi muda melalui film dan sinetron yang berlabel "religius". Tertapi isinya justru praktek perdukunan, bersekutu dengan syetan, menjadi dan melawan hantu, dan sebagainya. Seolah-olah, syetan atau hantu memiliki kekuatan tersendiri dan menjadi rival Allah SWT. Padahal syetan, jin, dan bentuk-bentuk keghaiban lainnya adalah makhluk Allah. Tetapi masih saja ada orang yang percaya kepada kekuatan itu, bahkan bersedia mengabdikan diri kepadanya dan berpaling dari Allah SWT yang merupakan sumber dari segala kekuatan. Orang-orang yang berbuat demikian pada hakikatnya masih menyembah kepada pemberhalaan dalam bentuk kemusyrikan.

Pelajaran kedua yang patut diteladani dari kisah perjuangan tauhid Nabi Ibrahim As adalah kecerdasan akal dan hati yang seimbang. Kisah di atas menunjukkan bahwa Ibrahim memiliki kecerdasan akal yang tinggi. Tetapi dia tidak hanya mengandalkan kecerdasan akal saja dalam mencari dan memperjuangkan ajaran tauhid. Disamping akal, ia memiliki kecerdasan hati yang suci, tanpa adanya hal-hal yang mengotori hati itu. Allah menyatakan, "Ingatlah ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci" (Q.s. Al-Shaffat/37: 84).

Kita mesti berupaya untuk mengasah kecerdasan akal dan hati secara integral. Untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak bisa hanya semata-mata menggunakan kecerdasan akal, apalagi kecerdasan intelektual (IQ) sebagaimana yang ditemukan oleh sarjanawan Barat. Akal memang mesti dipergunakan, sebab agama hanyalah untuk orang yang berakal. Tetapi akal yang dimaksud adalah akal yang tidak bertentangan dengan hati nuraninya. Sebab ada orang yang mengedepankan rasionalitasnya dan mengabaikan, malah membohongi, hati nuraninya. Mereka "mengakal-akali" suatu kesalahan agar diterima sebagai suatu kebenaran dengan maksud dan tujuan tertentu.

Dengan menghapuskan praktek pemberhalaan seperti makna di atas dan hidup menggunakan kecerdasan akal dan qalbu sebagai bagian dari ruhaniyah manusia, maka agama tauhid ini akan tegak. Jika tauhid telah berdiri kokoh di setiap kepribadian umat Islam maka Islam akan tampil dan terbukti serta diakui oleh musuh-musuh Islam sebagai agama yang rahmatan li al-alamin, penuh kedamaian dan mendatangkan keselamatan kepada seluruh alam. Lihatlah ketika api menyelamatkan Nabi Ibrahim As. Peristiwa itu terjadi ketika Ibrahim tunduk sepenuhnya kepada Allah, sementara api pun tunduk sepenuhnya atas segala kehendak-Nya. Keduanya adalah sama-sama makhluk Allah. Karena sama-sama tunduk, maka keduanya saling menyelamatkan. Sifat api tetap membakar, tetapi terhadap kayu sementara Ibrahim terselematkan. Itulah bukti konkrit dari perjuangan menegakkan agama tauhid.
READ MORE...

Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama

Aqidah Secara Etimologi
Aqidah berasal dari kata 'aqd yang berarti pengikatan. Kalimat "Saya ber-i'tiqad begini" maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan "Dia mempunyai aqidah yang benar" berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Aqidah Secara Syara'
Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

Syari'at terbagi menjadi dua: i'tiqadiyah dan amaliyah.
I'tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i'tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri'tiqad terhadap rukun-ru­kun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (1)

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far'iyah (cabang agama), karena ia di­bangun di atas i'tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i'tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala:
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya." (Al-Kahfi: 110)

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu', ..." (An-Nahl: 36)

Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya." (Al-A'raf: 59, 65, 73, 85)

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu'aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi'tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da'i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.
READ MORE...

Belajar Tauhid

Sejak jaman nabi Adam a.s, Allah s.w.t sudah mengutus 124 ribu nabi/rasul ke bumi dimana Muhammad s.a.w adalah sebagai penutup. Allah s.w.t memberi jaminan tidak ada satu kaum pun yang tidak diutus nabi/rasul kepada mereka. Tujuan diutusnya nabi/rasul yang utama adalah satu, menegakkan kalimat tauhid bahwa tidak ada Tuhan selain Allah s.w.t, dan hanya Dia yang berhak disembah. Setiap nabi/rasul diutus hanya untuk kaumnya, bisa dicek di setiap kitab suci mereka, Musa a.s diutus hanya untuk bani Israel, sebagaimana Isa Al Masih a.s hanya diutus untuk bani Israel. Hanya Muhammad s.a.w nabi/rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia.

KONSEP TAUHID DALAM ISLAM, KRISTIAN DAN HINDU

Assalamualaikum wbt buat saudara serta saudari, muslimin dan muslimat, buat pertama-tama kali ini saya cuma nak berkongsi sedikit tentang Konsep Iman Kepada Allah swt yang merupakan salah satu Rukun Iman dalam Islam. Sebenarnya hakikat yang dikatakan beriman ini tidak hanya diletakkan pada orang yang mempercayai atau mengimani wujud Tuhan semata-mata, kerana manusia yang tidak mengiktiraf wujudnya Tuhan juga adalah orang yang beriman.

Bagi orang yang beragama sama ada Islam, Kristian, Hindu, Buddha dan lain-lain agama yang tidak saya sebutkan disini, semuanya mempunyai Iman dan percaya wujudnya Tuhan. Kemudian di satu sudut terdapat juga jutaan manusia yang tidak percaya akan wujudnya Tuhan iaitu Allah Pencipta Seluruh Isi Alam dan semua ini adalah di dalam liputan-Nya dan inilah iman mereka.

Konsep beriman kepada Tuhan ini terpecah kepada beberapa bahagian yang dapat kita lihat dengan jelas : -

(1) Mempercayai Wujudnya Tuhan seperti Agama Islam, Agama Kristian, Agama Hindu dan Agama Buddha. Beriman wujudnya Tuhan ini adalah suatu berita baik kepada golongan ini, NAMUN dalam kita mempercayai dan beriman wujudnya Tuhan seharusnya manusia memahami siapakah Tuhan dan bagaimana sifat-Nya serta batasannya.

PERHATIAN : Berkenaan Pegangan Agama Buddha saya akan memberi satu rujukan kepada anda iaitu sebuah buku yang bertajuk ’Bukti-Bukti Sains Dan Sejarah Kerasulan Muhammad” tulisan Dr.Danial Zainal Abidin.

Pada tahun 1966, perhimpunan Majlis Budha Sedunia diadakan di Sri Lanka bagi mencari titik persamaan antara Aliran Mahayana dan Aliran Theravada. Hasil daripada pertemuan ini, beberapa keputusan diambil oleh kedua-dua aliran. Antaranya adalah TIDAK MEMPERCAYAI ALAM INI DICIPTA dan DIPERINTAH OLEH TUHAN.

(2) Golongan manusia (Atheis) yang tidak beriman wujudnya Tuhan , dan inilah sebenarnya iman mereka, MEREKA BERIMAN bahawa Tuhan tidak wujud dengan pelbagai alasan dan kajian ilmiah yang cuba dibuktikan oleh golongan ini.

Bagi golongan yang mempercayai kewujudan Tuhan, mereka tidak sewenang-wenangnya dibiarkan sendiri dalam mencari petunjuk Tuhan, Tuhan akan memilih Rasul dari kalangan manusia untuk menyampaikan perintah suci sebagai panduan dan batas kepada manusia seluruhnya. Namun sikap manusia yang lebih gemar menurut hatinya menyebabkan konsep Iman kepada Tuhan menjadi pelbagai, sedangkan jika kita memahami isi Kitab ini menunjukkan Konsep Iman Kepada Allah swt dan sifat-Nya adalah sama.

Tuhan BUKANKANLAH Jesus (a.s), Tuhan BUKANLAH Gautama Buddha, Tuhan BUKANLAH Berhala-Berhala, apa saja yang terlintas difikiran dan terlintas dihati manusia itupun BUKAN TUHAN! Allah swt adalah Satu-Satunya Tuhan Yang Patut Disembah dan Tidak ada Tuhan selain Allah swt, untuk mengenali-Nya kita harus merujuk kepada dalil Naqli dan dalil Aqli. Walaupn manusia yang mempunyai latar belakang agama yang berbeza dan mempunyai kepercayaan seperti penyembah gunung ganang, penyembah berhala, penyembah lautan, penyembah alam atau apa saja yang disembahnya atau pun tidak menyembah apa-apa, golongan ini juga akan mendapat pertolongan dari Allah swt.

Siapa lagi TUHAN kalau bukan Allah swt!

Golongan sebegini juga meminta kepada Allah swt sebenarnya, memang tidak masuk akal perbuatan mereka tetapi inilah hakikatnya dan walaupun ia adalah dalam kategori menyekutukanNya, Allah swt tetap mendengar dan memberi perkenan-Nya kepada mereka dan serta seluruh isi alam.

Saya mengajak kita memperhatikan seketika perbandingan Konsep Iman Kepada Allah berdasarkan Kitab Al-Quran, Kitab Bible dan Kitab Hindu. Sangat jelas kepada kita bahawa ISLAM, KRISTIAN & HINDU mempunyai Konsep iman kepada Allah swt yang sama di dalam kitabnya, namun pelaksanaan iman dikalangan umat beragama ini berbeza sama sekali.

(1) KONSEP TAUHID KEPADA ALLAH DALAM IMAN AGAMA ISLAM

(Surah Al-Ikhlash : Ayat 1-4)
“Katakanlah; Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula di peranakkan dan Dia tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya”.

PENJELASAN : Inilah Konsep Tauhid yang sebenarnya, Allah swt berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dengan sesuatu apa pun kerana segala sesuatu itu adalah bergantung pada Allah swt.

(a) Allah swt Mencipta Oksigen Adalah Untuk Hamba-Hamba-Nya Dan BUKAN Untuk Allah Bernafas Dengannya. Ini Kerana Allah swt Tetap Hidup Tanpa Oksigen, Malah Oksigen Itulah Yang Bergantung Hidup Pada Allah swt.

(b) Allah swt Mencipta Sumber Makanan Adalah Untuk Hamba-Hamba-Nya Dan BUKAN Untuk Allah Makan Dengannya. Ini Kerana Allah swt Tetap Hidup Tanpa Sebarang Makanan, Malah Makanan Itulah Yang Bergantung Hidup Pada Allah swt.

(c) Allah swt Mencipta Takdir Adalah Untuk Hamba-Hamba-Nya dan BUKAN Untuk Allah Hidup Di Dalam Takdir. Ini Kerana Allah swt Di Luar Dari Menemui Takdir. Sebagai Contoh, Wajib Bagi Manusia Menemui Hari Isnin, Selasa, Rabu, Khamis, Jumaat, Sabtu Dan Ahad Sama Ada Suka Atau Tidak! Tidak Seorangpun Dari Hamba-Hamba-Nya Akan Terlepas Dari Takdir Ini.

(d) Allah swt Mencipta Masa Adalah Untuk Hamba-Hamba-Nya Mengatur Hidup Dan Berurusan Dengannya TETAPI BUKAN Untuk Allah Yang Menikmati Masa Untuk Mengatur urusan-Nya atau Diri-Nya Kerana Allah swt Di Luar Dari Sifat Masa, Sama Ada Masa Lalu, Masa Kini Dan Masa Akan Datang Semuanya Telah Tamat Di Sisi Allah swt. Sebagi Contoh, Wajib Bagi Manusia Melalui Masa 1 Hari 24 Jam, 7 Hari Seminggu, 30 Hari Sebulan, 365/6 Setahun Dan Seterusnya, Tidak Seorangpun Yang akan Terlepas Dari Melalui Masa-Masa Ini.

Dalam hal lain perkara yang perlu kita ambil perhatian adalah Allah swt itu tidak menyerupai atau diserupai oleh hamba-hamba-Nya, oleh kerana itu kita harus memahami sifat Allah dengan sebaiknya. Sesetengah manusia salah faham Konsep Allah Maha Kuasa Lagi Maha Esa dengan menyamatarafkan Allah dengan ciptaan-Nya. Ini adalah sifat HARAM Bagi Allah.

Kita perhatikan seketika berkenaan hal ini :-

(a) Allah swt MELIHAT BUKAN Bermaksud Allah Mempunyai MATA Seperti Makhluk Ciptaan-Nya.

(b) Allah swt MENDENGAR BUKAN Bermaksud Allah Mempunyai TELINGA Seperti Makhluk Ciptaan-Nya.

(c) Allah swt BERKATA-KATA BUKAN Bermaksud Allah Mempunyai MULUT Seperti Makhluk Ciptaan-Nya.

(d) Allah swt MENGENGGAM BUKAN Bermaksud Allah Mempunyai TANGAN Seperti Makhluk Ciptaan-Nya.

(e) Allah swt DILUAR dari Sifat Masa, Sama Ada Masa Lalu, Masa Kini & Masa Akan Datang. Allah swt DILUAR Dari Sifat Berubah Bentuk Sama Ada Muda, Tua Atau Apa Saja. Allah swt DILUAR Dari Sifat Mati.

(f) Allah swt BERWAJAH BUKAN Bermaksud Allah Mempunyai WAJAH Seperti Makhluk Ciptaan-Nya.

(g) Allah swt HIDUP BUKAN Bermaksud Allah swt HIDUP Seperti Makhluk Ciptaan-Nya. Ini Kerana Hidup Allah swt Tiada Permulaan Bererti BUKAN DILAHIRKAN dan Tiada Penghabisan Bererti Allah swt TIDAK MENEMUI KEMATIAN.

“Allah swt Maha Kuasa Mengatasi Logik Akal Manusia”

(2) KONSEP TAUHID KEPADA ALLAH DALAM IMAN AGAMA KRISTIAN

(Yohanes 17:3)
“Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Yesus kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

(Markus 12:29)
“Maka jawab Yesus kepadanya, HUKUM YANG TERUTAMA ialah: Dengarlah olehmu hai Israel, adapun ALLAH TUHAN KITA ialah Tuhan yang Esa.”

(Ulangan 4:35)
“Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

(Ulangan 6:4)
“Dengarlah olehmu hai Israel, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

(Ulangan 4:39)
“Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali Ia tiadalah lain lagi.”

(II Samuel 7:22)
“Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami”.

(Yahya 17:8)
“Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa aku datang dari pada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku”

PENJELASAN (1) : Kitab Bible yang mengalami perubahan besar di dalamnya masih terdapat juga terdapat perkara-perkara yang benar seperti ayat-ayat yang dikemukakan di atas. Allah Maha Esa bererti Allah BUKAN 3 Tuhan atau Allah BUKAN 3 dalam 1 atau 1 dalam 3.

PENJELASAN (2) : Sebelum perbincangan lebih jauh saya nak bagi sidikit ringkasan erti Esa pada Allah swt.

(Suran Al-Zumar 39:3-4) Ingatlah! (Hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala rupa syirik). Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung dan penolong (sambil berkata): “Kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya”, – sesungguhnya Allah akan menghukum di antara mereka (dengan orang-orang yang tidak melakukan syirik) tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik). Kalaulah Allah hendak mempunyai anak, tentulah Ia memilih mana-mana yang dikehendakiNya dari makhluk-makhluk yang diciptakanNya; Maha Sucilah Ia (dari menghendaki yang demikian). Dia lah Allah, Yang Maha Esa, lagi Yang Mengatasi kekuasaanNya segala-galanya.

PERHATIAN : Allah Maha Esa Lagi Maha Kuasa, berikut adalah BIODATA Allah swt.

(Surah Al-Ikhlash : Ayat 1-4)
“Katakanlah; Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula di peranakkan dan Dia tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya”.

“Qul hua Allahu AHAD”
“Katakanlah; Dialah Allah Tuhan Yang Maha Esa”

AHAD = 1, dalam Konteks ayat tersebut AHAD = ESA, oleh itu ESA = 1

(a) Allah menegaskan erti ke-Esa-anNya;

(Surah An-Nisaa’ 4:171)
“Say not ‘TRINITY’ : desist: It will BE BETTER FOR YOU: for Allah is one God.”

(Surah Al-Maidah 5:73)
“They do blaspheme who say Allah is one of three in a TRINITY: for there is no god except One God. If say desist not from their word (blasphemy), verily a grievous penalty will befall the blasphemers among them.”

Esa pada Allah swt bukanlah Esa dalam KONSEP TRINITI, kerana TRINITI BUKANLAH menunjukkan Allah itu ESA, sama ada TRINITI itu adalah sebuah Konsep Mengenal Allah atau apa pun maksudnya, sangat jelas Allah swt membantah kefahaman manusia sebegini dan Allah swt memberikan jalan dan petunjuik yang benar.

KESIMPULAN : “Allah Maha Esa” itu TIADA perkaitan dengan TRINITI, dan harus KITA FAHAMI serta IMANI TRINITI BUKANLAH “ESA”!

(b) Allah swt menegaskan lagi tentang ke-Esa-anNya seperti berikut;

(Surah Al-Maidah 5:17) Demi sesungguhnya, kafirlah orang-orang yang berkata: “Bahawasanya Allah ialah Al-Masih Ibni Maryam) katakanlah (wahai Muhammad): “(Dakwaan itu tidak benar) kerana siapakah yang dapat menahan (seksa) dari Allah sedikit jua pun kalau Ia mahu membinasakan Al-Masih Ibni Maryam beserta ibunya dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya?” Dan (ingatlah) bagi Allah jualah kuasa pemerintahan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya. Ia menciptakan apa jua yang dikehendakiNya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

(Surah Al-Maidah 5:72) Demi sesungguhnya! Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Bahawasanya Allah ialah Al-Masih Ibni Maryam”. Padahal Al-Masih sendiri berkata:” Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu, Bahawasanya sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, maka sesungguhnya Allah haramkan kepadanya Syurga, dan tempat kembalinya ialah neraka; dan tiadalah seorang penolong pun bagi orang-orang yang berlaku zalim”.

(c) Allah swt memberi peingatan kepada orang seperti saudara sekalian (Kristian);

(Surah Al-Maidah 5:74)
Oleh itu tidakkah mereka mahu bertaubat kepada Allah dan memohon keampunannya (sesudah mereka mendengar keterangan-keterangan tentang kepercayaan mereka yang salah dan balasan seksanya)? Padahal Allah Maha pengampun, lagi Maha Mengasihani.

AKHIRKATA : Allah swt Maha Esa, dan saya tegaskan sekali lagi TRNITI BUKANLAH Konsep Mengenal Allah swt yang betul melainkan menyimpang dari ajaran sebenar.

Allah iaitu Al-Ilah, adalah Satu-Satunya Yang Patut Disembah dan tiada sekutu bagi-Nya.

(3) KONSEP TAUHID KEPADA ALLAH DALAM IMAN AGAMA HINDU

Saya mulakan dengan memperhatikan dengan ayat suci Al-Quran, supaya kita dapat memahami terlebih dahulu apa yang difirmankan Allah berkenaan mereka-mereka yang beriman tetapi Kitab tersebut tidak dinyatakan secara khusus di dalam Al-Quran.

(Surah An-Nisaa’ 4:164)
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Berikut adalah beberapa ayat di dalam Kitab Hindu yang menyentuh tentang Sifat yang ada pada Tuhan Yang Mentadbir Seluruh Alam. Tuhan di dalam Kitab Hindu juga dengan jelas dinyatakan tidak bersekutu dan tidak diserupai oleh segala sesuatu. Tuhan adalah satu-satunya yang patut disembah.

(Shevatashvatara Upanishad Ch 4: V.19)
Tuhan itu tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia

(Shevatashvatara Upanishad Ch 4: V.20)
Dia tidak bisa dilihat, tidak ada orang mampu melihat dengan mata.

(Bhagavad Gita Ch.10:V.3)
Allah Tuhan yang tidak dilahirkan, tiada permulaan, Tuhan Seru Sekalian Alam.

(Yajurveda Ch.32:V.3)
Tiada rupa buat Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia berhak disembah.

(Yajurveda Ch.40:V.8)
Allah tidak berbentuk dan Dia Suci

(Rigveda Book 1 Hymn 164:V.146)
Allah Maha Esa. Panggilah dengan berbagai nama.

(Rigveda Book 10 Hymn 114:V.5)
Tuhan itu satu, Dia disebut dengan berbagai nama.

(Rigveda Book 8 Hymn 1:V.1)
Kami tidak menyembah seseorang kecuali Allah yang satu.

(Rigveda Book 6 Hymn 45:V.16)
Sembahlah Dia saja Tuhan yang sesungguhnya.

(Chandogya Upanishad Ch.6 Sek.2 V.1)
Tuhan hanya satu tidak ada sekutu dengan-Nya

(Shevatashvatara Upanishad Ch 6: V.9)
Allah itu tidak beribu bapa.

KESIMPULAN : Betapa kita harus memikirkan hal ini seketika, di dalam Al-Quran Allah swt hanya menyebut 4 Kitab sahaja iaitu Kitab Taurat (Nabi Musa a.s), Kitab Zabur (Nabi Daud a.s), Kitab Injil (Nabi Isa a.s), Kitab Al-Quran (Nabi Muhammad saw).

AKHIR KATA : Kitab apapun selain dari Kitab Suci Al-Quran BUKANLAH Kitab yang diimani oleh Umat Islam bahkan Nabi-Nabi dari Nabi Adam a.s sehingga Nabi Muhammad saw. Mungkin saja kitab ini mengandungi Firman Allah swt, mengapa tidak! ya memang terdapt Firman Allah tapi bagaimana dengan kesalahan-kesalahan Ilmiah, pertentangan ayat-ayat, perkara-perkara yang tidak sepatutnya bagi para Nabi dan perkara-perkara yang HARAM bagi Allah?

Oleh kerana itu semua manusia di ajak dialog antara agama begitu juga dengan golongan yang tidak mempercayai Tuhan itu wujud, mudah-mudahan perbincangan antara kita dapatlah kita mengenali dan memahami Konsep Iman Kepada Allah swt dengan yang sebenarnya.

(Surah Ali’Imran 3:64)
Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu Kalimah yang bersamaan antara kami dengan kamu, iaitu kita semua tidak menyembah melainkan Allah, dan kita tidak sekutukan denganNya sesuatu jua pun; dan jangan pula sebahagian dari kita mengambil akan sebahagian yang lain untuk dijadikan orang-orang yang dipuja dan didewa-dewakan selain dari Allah”. Kemudian jika mereka (Ahli Kitab itu) barpaling (enggan menerimanya) maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah kamu bahawa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam”.

READ MORE...

Sabtu, 12 November 2011

5 Cara Melatih Berpikir Kreatif


Berikut ini cara yang bisa dicoba:
- Berpikir, semua bisa dilakukan
Yakinlah, sesuatu yang akan kita kerjakan mampu kita selesaikan. Artinya, harus optimis. Buang ungkapan bernada pesimis. Misal, ”Saya mungkin bisa mengerjakan”. Ganti dengan ungkapan penuh optimisme. Contoh, ”Saya pasti bisa mengerjakannya”, ”Bagi saya tidak ada kata menyerah!”.
Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke persoalan. Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak untuk mewujudkan tekad itu.
- Hilangkan cara berpikir konservatif
Pola berpikir konservatif ditandai dengan kekhawatiran untuk menerima perubahan, meski perubahan itu menguntungkan. Karena ingin mempertahankan gaya konservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, kita takut akan mengalami kerugian.
Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan. Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir efektif.
Ada tiga cara mengurangi atau menghilangkan pola berpikir konservatif.
Pertama, terbuka terhadap masukan. Masukan adalah bahan mentah sangat berharga. Lalu, kita mengolahnya menjadi “barang jadi” lewat pemikiran kreatif. Jadi, jangan takut dengan ide, usulan, bahkan kritik. Karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif.
Kedua, mencoba pekerjaan atau hal di luar bidang kita. Untuk ”memperkaya” diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Ketiga, harus proaktif. Kita dituntut ”menjemput bola” dalam menghadapi sesuatu, dan bukan ”menunggu bola”. Bertindak proaktif berarti membuat diri bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreativitas berpikir.
READ MORE...