Kamis, 05 Januari 2012

Menegakkan Agama Tauhid: Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim AS

Islam adalah agama tauhid yang meng-Esa-kan Allah SWT secara mutlak; suci dan murni dari segala unsur kesyirikan. Hanya Allah yang berkuasa, dan tidak ada sesuatu pun yang berkuasa selain-Nya. Yang ada hanya Khalik (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan). Selain Allah adalah makhluk dan tidak memiliki kekuatan apa-apa selain yang Allah titipkan kepadanya. Sebenarnya, agama yang bersumber dari Allah adalah agama tauhid. Bahkan tiga agama besar—Yahudi, Nasrani, dan Islam—adalah agama tauhid. Tetapi pada perkembangan selanjutnya, Yahudi dan Nasrani tidak lagi agama tauhid karena mereka mengakui ada unsur lain selain Allah. Hanya Islam yang tetap bertahan, sebab Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul penutup (khatam al-anbiya’i wa al-mursalin) dan Islam adalah agama sempurna lagi penyempurna. Untuk itu, umat Islam mesti tetap menegakkan agama tauhid, bukan hanya sebatas lip service, tetapi mewarnai seluruh aktivitas kehidupannya. Keyikannya hanya kepada Allah semata, tanpa tergantung kepada selainnya. Ini tidak mudah, tetapi butuh perjuangan (jihad).

Untuk menegakkan agama tauhid, baik dalam diri sendiri secara pribadi, dalam lingkungan keluarga, lingkungan sesama muslim, ataupun dalam masyarakat yang plural, perlu kiranya kita meneladani dan belajar dari kisah perjuangan Nabi Ibrahim AS. Sebab, sebagaimana ya
ng disebutkan oleh Ali Syari’ati, Ibrahim adalah bapak “Monotheisme”. Disebut demikian mengingat perjuangannya dalam mencari dan menemukan Allah sebagai Tuhan yang Esa serta perjuangannya dalam menegakkan agama tauhid tersebut kepada kaum dan anak keturunannya. Dari keturunannya pulalah lahir tiga agama besar, Yahudi, Nasrani dan Islam. Dua agama pertama dibawa oleh Nabi yang juga keturunan dari anaknya, Ishaq. Sementara Islam dibawa Nabi Muhammad yang merupakan keturunan dari anaknya, Isma’il.
Awalnya Ibrahim adalah seorang anak yang hidup di bawah keluarga yang musyrik. Ayahnya Azar adalah pembuat patung yang ternama. Namun dengan kecerdasan akalnya, Ibrahim tidak menerima apa yang diperbuat oleh ayahnya beserta kaumnya. Menurutnya, bagaimana mungkin manusia menyembah apa yang ia buat sendiri? Mestinya Yang Disembah itulah yang menciptakan manusia. Ia pun melakukan kritik yang tajam kepada ayahnya sendiri seraya berkata "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".

Tanpa ada bantuan dari orang-orang di sekitarnya, Ibrahim pun menggunakan potensi akal dan hatinya untuk mencari dan menemukan Tuhan yang haq untuk disembah. Ketika malam tiba, ia menyaksikan bintang yang gemerlapan. Ia pun mengagumi keindahan dan pancaran sinar yang dimunculkan bintang itu, sehingga dia berkata "Inilah tuhanku". Tatkala bulan terbit, ia pun lebih mengaguminya seraya berucap "Inilah tuhanku". Tetapi, ketika bulan itu sirna, ia pun menyadari bahwa bulan bukan Tuhannya. Muncul pula matahari dengan sinar yang sangat terang, ia kembali berkata "Inilah tuhanku, ini yang lebih besar". Lagi-lagi matahari itu kembali terbenam di senja hari. (Lihat Q.s. al-An'am/6:74-78).

Akhirnya, dengan kecerdasan akal dan hatinya yang suci, Allah membimbingnya lalu memberikan hidayah bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Allah SWT. Ibrahim pun diangkat menjadi Nabi dan Rasul-Nya lalu mengemban amanah untuk menyeru kaumnya untuk mengesakan Allah.

Untuk mengajak kaumnya, bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia mendapat pertentangan dan perlawanan (makar) yang hebat, terutama dari Raja Namrud. Selain memohon pertolongan dari Allah, ia juga menggunakan pendekatan rasional untuk menyeru kaumnya meninggalkan berhala yang mereka sembah. Suatu ketika, Nabi Ibrahim memasuki tempat berhala itu dikumpulkan, lalu ia hancurkan hingga terpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain.

Ketika kaumnya yang ingkar itu kembali ke tempat itu, mereka pun terkejut menyaksikan sesembahannya hancur porak-poranda. Setelah dilakukan penyelidikan, mereka pun menyimpulkan bahwa semua itu adalah perbuatan Ibrahim. Mereka pun memanggil Ibrahim di hadapan orang banyak dan bertanya: "apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami hai Ibrahim?" Dengan tenang Ibrahim menjawab, "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Jawaban itu memancing jawaban dari kaumnya sehingga mereka berkata, "Sesungguhnya engkau (Ibrahim) tahu bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Jawaban ini digunakan Ibrahim untuk bertanya sebaliknya, "Lalu mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula memberi mudarat kepada kamu?"

Namun, karena hati mereka masih tertutup, dialog yang sangat rasional dan argumentatif itu tidak membuat kaumnya mau mengakui keesaan Allah. Malah mereka menangkap dan membakar Ibrahim hidup-hidup. Tetapi dengan kebesaran dan kebenaran Allah, api yang sifatnya membakar hanyalah membakar kayu bakar yang menumpuk. Sementara tubuh Ibrahim tidak terbakar sedikit pun, karena api itu diperintahkan Allah menjadi dingin dan menyelamatkan diri Nabi Ibrahim AS. (lihat Q.s. al-Anbiya'/21: 58-69).

Dari kisah singkat di atas, dapat dipahami betapa hebatnya perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam menegakkan agama Tauhid. Sebagai umat Nabi Muhammad SAW banyak hal yang patut kita ambil pelajaran dari perjuangan Nabi Ibrahim AS tersebut. Pertama, mensucikan diri dari pemberhalaan. Untuk kondisi hari ini, umat Islam memang tidak dihadapkan kepada persolan berhala sebagaimana yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS. Tetapi substansi berhala itu tampaknya masih ada di tengah-tengah masyarakat kita. Setidaknya ada dua makna berhala di sini. Berhala pertama diartikan sebagai tempat bergantung. Kaum Nabi Ibrahim, memiliki ketergantungan kepada berhala-berhala tersebut, meskipun berhala itu mereka yang membuatnya. Terutama ayahnya, patung bukan saja sesembahannya, tetapi menjadi mata pencariannya, karena dia adalah pemahat patung.

Dewasa ini, orang memang tidak tergantung kepada berhala dalam bentuk patung yang dipahat dari batu atau kayu. Tetapi orang bisa memiliki ketergantungan kepada harta, jabatan, atau kepada orang-orang yang dicintai. Seluruh hidupnya hanya diabdikan untuk menumpuk kekayaan dirinya. Dalam pikirannya tertanam bahwa harta adalah segala-galanya, bahkan orang lain pun dinilai dari hartanya. Mereka inilah yang disinggung Allah dalam firman-Nya: "…yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya dan mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya." (Q.s. al-Humazah/104:2-3).

Ada orang yang tergantung hidupnya kepada jabatan. Ia halalkan segala cara untuk meraih suatu jabatan. Baginya jabatan adalah segala-galanya dan diyakini dapat membahagiakan hidupnya. Ada pula yang tergantung kepada orang lain. Orang itu bisa berupa majikan, atasan, atau orang yang sangat dicintai, seperti istri/suami, anak, orang tua, dan sebagainya. Ia tidak sanggup hidup tanpa kehadiran mereka.
Orang-orang seperti itu telah menjadikan harta, jabatan dan orang lain sebagai berhala dalam kehidupannya. Mereka lupa, bahkan berpaling, dari Allah yang telah memberikan kehidupan ini.

Makna kedua dari berhala adalah menyetukukan Allah. Berhala adalah lambang kemusyrikan. Banyak hal yang dapat membuat seseorang itu berlaku musyrik yang kadang tanpa disadarinya. Kemusyrikan yang dimaksud adalah adanya keyakinan bahwa ada kekuatan lain selai kekuatan dari Allah. Dewasa ini, kemusyrikan itu biasanya ditemukan melalui praktek perdukunan atau kegiatan mistik lainnya. Semua ini dapat mengaburkan akidah seseorang dan jelas telah merusak kemurnian tauhidnya.

Ironisnya, adanya pengakuan terhadap kekuatan mistik ini, secara perlahan ditanamkan kepada generasi muda melalui film dan sinetron yang berlabel "religius". Tertapi isinya justru praktek perdukunan, bersekutu dengan syetan, menjadi dan melawan hantu, dan sebagainya. Seolah-olah, syetan atau hantu memiliki kekuatan tersendiri dan menjadi rival Allah SWT. Padahal syetan, jin, dan bentuk-bentuk keghaiban lainnya adalah makhluk Allah. Tetapi masih saja ada orang yang percaya kepada kekuatan itu, bahkan bersedia mengabdikan diri kepadanya dan berpaling dari Allah SWT yang merupakan sumber dari segala kekuatan. Orang-orang yang berbuat demikian pada hakikatnya masih menyembah kepada pemberhalaan dalam bentuk kemusyrikan.

Pelajaran kedua yang patut diteladani dari kisah perjuangan tauhid Nabi Ibrahim As adalah kecerdasan akal dan hati yang seimbang. Kisah di atas menunjukkan bahwa Ibrahim memiliki kecerdasan akal yang tinggi. Tetapi dia tidak hanya mengandalkan kecerdasan akal saja dalam mencari dan memperjuangkan ajaran tauhid. Disamping akal, ia memiliki kecerdasan hati yang suci, tanpa adanya hal-hal yang mengotori hati itu. Allah menyatakan, "Ingatlah ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci" (Q.s. Al-Shaffat/37: 84).

Kita mesti berupaya untuk mengasah kecerdasan akal dan hati secara integral. Untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak bisa hanya semata-mata menggunakan kecerdasan akal, apalagi kecerdasan intelektual (IQ) sebagaimana yang ditemukan oleh sarjanawan Barat. Akal memang mesti dipergunakan, sebab agama hanyalah untuk orang yang berakal. Tetapi akal yang dimaksud adalah akal yang tidak bertentangan dengan hati nuraninya. Sebab ada orang yang mengedepankan rasionalitasnya dan mengabaikan, malah membohongi, hati nuraninya. Mereka "mengakal-akali" suatu kesalahan agar diterima sebagai suatu kebenaran dengan maksud dan tujuan tertentu.

Dengan menghapuskan praktek pemberhalaan seperti makna di atas dan hidup menggunakan kecerdasan akal dan qalbu sebagai bagian dari ruhaniyah manusia, maka agama tauhid ini akan tegak. Jika tauhid telah berdiri kokoh di setiap kepribadian umat Islam maka Islam akan tampil dan terbukti serta diakui oleh musuh-musuh Islam sebagai agama yang rahmatan li al-alamin, penuh kedamaian dan mendatangkan keselamatan kepada seluruh alam. Lihatlah ketika api menyelamatkan Nabi Ibrahim As. Peristiwa itu terjadi ketika Ibrahim tunduk sepenuhnya kepada Allah, sementara api pun tunduk sepenuhnya atas segala kehendak-Nya. Keduanya adalah sama-sama makhluk Allah. Karena sama-sama tunduk, maka keduanya saling menyelamatkan. Sifat api tetap membakar, tetapi terhadap kayu sementara Ibrahim terselematkan. Itulah bukti konkrit dari perjuangan menegakkan agama tauhid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar